Perbedaan Eau de Parfum, Eau de Toilette, Eau de Cologne dan After Shave

Kalo kamu beli pengharum badan (kalau istilah keren kita tuh parfum) pasti sedikit bingung kalau memperhatikan benar-benar beberapa istilah yang dipakai dalam dunia per-fragrance-an atau dunia wangi-wangian ini. Istilah yang dipakai ada banyak, contohnya seperti:

– SOIE de Perfume
– Eau de Parfum
– Eau de Toilette
– Eau de Cologne
– After Shave
– Eau Fraiche

Apa artinya dan buat apa sebenarnya istilah-istilah itu dipakai?

Sebenarnya banyaknya istilah itu dipakai berawal dari para pembuat/industri wewangian/perfume yang menciptakan beberapa standar campuran untuk produknya.

Pure Perfume sendiri sebenarnya adalah sebuah extract wewangian dengan konsentrasi antara 15%-30% berupa minyak fragrance (campuran lainnya bisa berupa air atau alkohol) dan dapat bertahan lebih dari 6 jam jika dipakai. beberapa merek menawarkan produknya dengan jenis ini, tapi biasanya sangat langka dan mahal.

SOIE de Perfume adalah jenis yang tidak biasa beredar di pasaran komersial sama seperti pure perfume, dengan konsentrasi 15%-18% minyak perfume, dapat bertahan kurang lebih 3-6 jam jika digunakan.

Eau de Perfume adalah jenis yang sedikit umum di pasaran dengan konsentrasi minyak antara 8%-15% dan bertahan kurang lebih 3-5 jam jika dipakai, harganya sedikit lebih mahal dari pada concentrated fragrance, tergantung dari merk dan jenisnya.

Eau de Toilette adalah jenis yang sangat umum di pasaran industri wewangian, konsentrasi minyak perfume yang dikandung kurang lebih antara 4%-10% dan bertahan antara 3-4 jam jika digunakan. Jenis ini biasanya jenis terkuat yang disediakan untuk parfume pria.

Eau de Cologne adalah jenis dengan konsentrasi minyak 2%-5% dan dapat bertahan sampai dengan 3 jam. jenis ini dulu sempat sangat populer tapi saat ini sudah tidak sebanyak dulu, umumnya untuk jenis perfume wanita, masih sedikit umum dijumpai untuk perfume pria.

After Shave (A/S) adalah jenis dengan campuran dengan konsentrasi minyak 3% atau kurang, dan dapat bertahan kurang lebih 2-3 jam dan cukup umum dijumpai pada berbagai merk perfume. Biasanya pada after shave mengandung balm atau aloe (lidah buaya) yang digunakan untuk menenangkan pori-pori setelah bercukur bagi para pria, dan kandungan alkoholnya juga berfungsi untuk menutup kembali pori-pori.

Eau Fraiche adalah jenis yang tidak umum untuk industri besar dengan campuran kurang dari 3% dan bertahan hanya sekitar 1 jam saja. Biasa pula disebut dengan nama Perfume Mist atau Splash.

Kata “Eau de” yang digunakan untuk beberapa istilah diatas dalam bahasa inggris berarti “water of”. Selain itu juga sering dijumpai tulisan “pour homme” (bahasa perancis) yang artinya adalah untuk pria atau dalam bahasa inggris berarti “for men” sedangkan lawannya adalah “pour femme” atau untuk wanita.

Maret 17, 2008 at 8:10 am 2 komentar

Parfum, Bukan Sekadar Alkohol

Bahan wewangian atau parfum saat ini sepertinya sudah menjadi bagian dari kehidupan. Pria maupun wanita biasa menggunakannya untuk berbagai keperluan. Mulai dari tujuan ibadah, pergi ke masjid, menghilangkan bau badan atau sekedar menimbulkan efek dan kesan tertentu. Islam menganjurkan umatnya untuk menggunakan parfum sebagai bagian dari ibadah, yaitu untuk tujuan ke masjid atau keperluan menambah keharmonisan suami istri.

Bahan yang sering dipermasalahkan oleh umat Islam dalam menggunakan parfum ini adalah adanya alkohol pada produk tersebut. Ada sebagian kalangan yang mengkaitkan alkohol ini dengan minuman keras (khamer), sehingga menganggapnya najis untuk dipakai. Maka berkembanglah wewangian non alkohol yang dijual di masyarakat sebagai parfum halal.

Alkohol dalam parfum berfungsi sebagai pelarut bahan-bahan esensial yang menghasilkan aroma tertentu. Banyak sekali bahan aroma parfum tersebut yang tidak larut di dalam air, tetapi hanya larut di dalam alkohol. Oleh karena itu alkohol menjadi salah satu alternatif terbaik dalam melarutkan bahan tersebut.

Sebenarnya alkohol tidaklah sama dengan khamer. Khamer atau minuman keras adalah suatu istilah untuk jenis minuman yang memabukkan. Di dalam khamer itu memang mengandung alkohol sebagai salah satu komponen yang menyebabkan mabuk. Sedangkan alkohol atau etanol merupakan salah satu senyawa kimia yang bisa berasal dari berbagai bahan. Bisa dari fermentasi khamer, fermentasi non khamer, bahkan juga terdapat secara alamiah di dalam buah-buahan matang. Oleh karena itu penggunaan alkohol teknis untuk keperluan non pangan, seperti bahan sanitasi (dalam dunia laboratorium dan kedokteran) masih diperbolehkan.

Sedangkan alkohol sebagai pelarut dalam dunia pangan, selama tidak terdeteksi di dalam produk akhir bahan makanan tersebut maka Komisi Fatwa MUI masih membolehkannya. Seperti penggunaan alkohol sebagai pelarut dalam mengekstrak minyak atsiri atau oleoresin. Demikian juga penggunaan alkohol untuk melarutkan bahan-bahan perasa (flavor). Syaratnya, alkohol tersebut bukan berasal dari fermentasi khamer (alkohol teknis) dan alkohol tersebut diuapkan kembali hingga tidak terdeteksi dalam produk akhir.

Dalam dunia parfum, alkohol hanya bersifat sebagai bahan penolong untuk melarutkan komponen wewangian. Mungkin ia masih akan ikut dan tertinggal di dalam parfum tersebut. Akan tetapi ketika digunakan, misalnya dioleskan atau disemprotkan ke badan, maka ia akan segera menguap dan habis, tinggal bahan parfumnya saja yang masih menempel.

 

 

Bukan sekedar alkohol

Bahan penyusun parfum sendiri sebenarnya cukup banyak. Secara umum parfum didapatkan dari dua kelompok besar, yaitu bahan alami (yang diekstrak dari alam) dan bahan sintetis (bahan buatan yang berasal dari bahan kimia sintetis). Sebagian kalangan menganggap bahwa alkohol inilah yang menyebabkan suatu parfum menjadi halal atau haram. Artinya jika di dalam parfum tersebut tidak ada alkohol (non alkohol), maka otomatis menjadi halal.

Anggapan ini tidak selamanya benar. Sebab bahan parfum itu sendiri, baik yang berasal dari alam maupun sintetik, berpeluang mengandung sesuatu yang haram. Selain bahan yang digunakan, proses pembuatan parfum juga mengundang kerawanan. Dalam dunia parfum kita mengenal beberapa bahan yang sering dipakai sebagai bahan esensial yang memiliki aroma dan kesan tertentu. Misalnya civet, berupa sejenis lemak yang berasal dari hewan. Biasanya dari hewan sejenis musang. Civet ini memberikan kesan tertentu di dalam parfum, sehingga menghasilkan nuansa maskulin. Sebagai sebuah lemak hewan, tentu saja perlu dikaji, apakah hewan tersebut halal atau tidak. Demikian juga cara mendapatkannya, apakah disembelih atau tidak. Sebab jika tidak sesuai dengan aturan Islam, maka civet yang berasal dari hewan haram akan menjadi najis bagi parfum yang dihasilkannya.

Salah satu proses pengambilan komponen esensial dalam parfum adalah dengan metode enfluorase. Metode ini dilakukan dengan menangkap bahan parfum yang bersifat folatil (gas yang mudah terbang) ke dalam suatu lemak padat. Cara ini dipakai untuk menghasilkan aroma tertentu yang sulit dilarutkan atau ditangkap dengan pelarut cair biasa. Nah, sekali lagi kita bertemu dengan lemak padat, yang biasanya adalah lemak hewani. Konon yang sering dipakai dalam metode ini adalah justru lemak babi!
Meskipun saat ini metode tersebut sudah mulai ditinggalkan karena mahal, namun untuk parfum-parfum tertentu yang menghendaki kemurnian dan efek tertentu, maka penggunaan metode tersebut masih dimungkinkan. Di pasaran kita sulit membedakan mana parfum yang diperoleh dari ekstraksi menggunakan pelarut cair dan mana yang menggunakan metode enfluorase. Kadang-kadang beberapa bahan tersebut dicampur-campur untuk menghasilkan efek dan karakter tertentu.

Melihat hal itu seyogyanya kita dapat menilai kehalalan parfum secara proporsional. Boleh-boleh saja pendapat yang mengharamkan penggunaan alkohol dalam parfum dengan berbagai alasannya. Tetapi kita juga harus melihat aspek lain, seperti bahan parfumnya sendiri atau proses pembuatannya yang bisa saja melibatkan bahan-bahan haram. Bahan pelarut dan penangkap komponen esensial dalam dunia parfum memang sangat dibutuhkan. Jangan sampai demi menghindari alkohol yang masih diperdebatkan kebolehannya, kita justru terjebak kepada bahan lain yang jelas-jelas haram dan najis.

Sumber: Website LP POM MUI

 

Maret 17, 2008 at 8:05 am Tinggalkan komentar

Parfum Selayang Pandang

Semua orang pasti pernah memakai parfum. Namun tidak semua orang tahu apa sebenarnya parfum itu. Ia dikenal sebagai wewangian yang dipakai untuk meredam bau tubuh atau menonjolkan aroma tertentu yang wangi.

Parfum memang sebuah substansi (biasanya cair) yang berfungsi untuk menebarkan aroma wangi. Dibuat dari bahan sintetis, alami, atau campuran keduanya. Setiap parfum terdiri dari sejumlah kandungan zat kimia tertentu yang memberikan sensasi dan aroma tertentu. Bisa aroma aneka bunga, buah, dedaunan, atau wewangian lain.

Masing-masing aroma memang diciptakan untuk memberikan sensasi yang berbeda. Aroma-aroma ini kemudian akan bercampur dengan keringat dari tubuh si pemakai dan menghasilkan wangi yang khas. Maka peruntukan parfum memang sebagai wewangian yang befungsi sebagai penguat citra diri, peredam bau tubuh, atau untuk merangsang indera penciuman untuk tujuan dan kesan tertentu.

Karena parfum begitu dekat dengan fashion (penampilan), maka parfum pun hadir dalam berbagai wujud alat-alat kecantikan, sabun, sampo, bedak, atau berdiri sendiri sebagai wewangian. Berdasarkan penelitian, hampir semua produk yang beraroma mengandung bahan pewangi.

Dalam dunia kecantikan, parfum dibedakan menjadi tiga klasifikasi. Pertama yang disebut perfume (parfum), colognes (kolon), dan toilette (toilet waters). Masing-masing dibedakan berdasarkan esensi persentase zat pewangi dalam campurannya. Namun yang sesungguhnya disebut parfum adalah cairan pewangi yang campuran bahan wewangiannya lebih tinggi ketimbang bahan pencampur lainnya. Karena itu parfum adalah wewangian yang paling mahal dibanding colognes dan toilet waters.

Secara umum ketiga klasifikasi wewangian ini bisa dibedakan dengan komposisi persentase esense wangi dan cairan penyampurnya. Rata-rata parfum mengandung 10 -20 persen esensi wewangian, sementara colognes hanya 2–5 persen, dan toilet water di bawah 2 persen.

Maka parfum (eau de perfume) akan memiliki aroma yang kuat dan tahan lama. Biasanya dipakai untuk acara-acara khusus yang membutuhkan keawetan wangi yang tetap sepanjang waktu.

Kemudian colognes (eau de cologne) menebarkan wangi yang tidak terlalu tajam, terkesan ringan, namun awet. Ini biasanya menjadi pilihan wewangian untuk kepentingan sehari-hari pada setiap kesempatan dan bukan pada acara khusus.

Sementara toilet water (eau de toilette) adalah kelompok wewangian yang paling ringan dan aromanya cepat menguap. Biasanya digunakan sehabis mandi atau bercukur.
Berbasis Alkohol

Walau kini ada parfum yang disebut tidak mengandung alkohol (non-alkohol), pada awalnya semua parfum (termasuk cologness dan toilet water) dibuat dari cairan alkohol plus esense pewangi dengan sedikit campuran bahan lainnya.

Alkohol yang mudah menguap, tadinya bermanfaat untuk mengikat aroma dan mempertahankannya untuk sekian lama. Jika cairan pewangin bercampur alkohol ini menempel di kulit ia akan bereaksi dengan keringat, sehingga wewangian tercium menjadi khas dan berbeda dari pemakai satu dengan pemakai lainnya walau menggunakan aroma yang sama.

Inilah rahasia pemilihan parfum, yang akhirnya disimpulkan bahwa pengunaan parfum akan mencerminkan citra diri si pemakainya.

Namun seiring perkembangannya, kini diklaim bahwa tidak semua parfum mengandung campuran alkohol. Untuk penggantinya digunakan larutan lain seperti air suling atau zat-zat lain non-alkohol. Karena itulah industri parfum berkembang dalam banyak varian bahan pencampur.

Catatan Sejarah
Parfum memang sebuah perangkat istimewa. Sejak dulu kala orang sudah menggunakan “parfum” untuk berbagai tujuan. Catatan sejarah manusia menunjukkan bahwa manusia di masa lampau menggunakan wewangian alami. Bahan seperti resin, getah, karet, dan kulit kayu, dibakar untuk menghasilkan wangi tertentu yang dimanfaatkan dalam upacara ritual khusus (keagamaan).

Jika ditinjau dari etimologi bahasa, asal kata parfum sendiri berasal dari bahasa Latin yang artinya asap yang merebak (per artinya “through” atau merebak: fumus artinya “smoke” atau asap). Maka asal kata parfume memang dari bahan alami yang dibakar untuk menghasilkan aroma tertentu.

Bukti sejarah sebagai fakta tentang penggunaan parfum ditemukan dalam makam batu Firaun Mesir pada masa 3.000 tahun lalu. Pengawetan mummi para penguasa Mesir (Firaun) dilakukan dengan menggunakan bahan wewangian alami dari kayu dan resin dicampur minyak dan air yang dioleskan sebagai balsem ke seluruh tubuh jenazah.

Bukti lain, orang-orang Yunani dan Romawi kuno mengembangkan bahan pewangi berdasarkan pengetahuan orang-orang Mesir sebagai pengguna “parfum” yang pertama kali.

Walau bentuknya belum seperti parfum yang kita kenal, minyak wangi pun sudah mulai dipakai pada ratusan tahun sebelum masehi sebagai pewangi tubuh orang-orang yang dihormati.

Di masa lalu, perkembangan parfum justru terjadi di wilayah Timur, dari Timur Tengah sampai Asia sebagai bagian dari seni oriental. Digunakan secara lebih meluas di kalangan bangsawan dan orang-orang terhormat. Pada catatan tahun 1200-an (abad ke-13) pasukan Perang Salib (Crusader) memboyong “teknologi” parfum dari wilayah Palestina kuno ke Inggris dan Prancis.

Lalu pada abad ke-16 (tahun 1500-an), parfum pun menjadi populer di daratan Eropa. Perkembangan teknologi dan penemuan bahan-bahan kimia mendorong industri parfum semakin berkembang di Eropa pada tahun 1800-an. Dan kemudian wilayah Eropa menjadi produsen parfum yang paling terkenal dengan kualitas tinggi di dunia, terutama di Paris, Prancis. Walau pun sesungguhnya, dalam sejarah pengguanaanya, parfum lebih dulu dipakai oleh orang-orang Mesir dan Asia.

Serba-serbi Minyak Wangi
Sejak dahulu, wewangian sudah akrab dengan manusia. Berbagai aroma yang merangsang hidung ini digunakan sebagai pelengkap penampilan dan meningkatkan daya tarik. Bukan hanya itu, aroma wewangian tertentu juga bisa merangsang gairah dan hasrat seksual. Wewangian yang kini dikenal sebagai parfum, punya banyak pilihan aroma dan tujuan. Masing-masing memiliki aroma khusus yang bisa dipilih sesuai keinginan si pemakai.

Komposisi wewangian pada parfum memang tergantung pada penggunanya. Sebagaian besar parfum terbuat dari bahan aroma bunga-bungaan (floral), sari tumbuhan (plant oil), substansi wangi dari hewan, bahan alami dan natural, bahan sitetis, alkohol, dan air. Aroma floral adalah parfum yang paling digemari kaum perempuan. Parfum khusus dibuat dari sari wangi bunga-bunga yang mahal.

Sebagai pedoman pemilihan aroma wewangian yang tepat, disarankan untuk memilih wewangian yang cocok dengan kepribadian. Atau untuk aroma pewangi ruangan, bisa juga dipilih yang memang benar-benar disukai. Untuk mempermudah pilihan, secara umum ada beberapa klasifikasi aroma pada wewangian. Dalam banyak literatur dikelompokkan menjadi aroma floral, elegan, oriental dan fresh. Ada pengelompokan lain, seperti aroma nature.

Floral adalah wewangian yang mencitrakan berbagai jenis bebungaan. Umumnya aroma ini berkesan manis. Biasanya aroma bebungaan yang menonjol seperti mawar, melati, maupun bunga nila dan lavender. Aroma floral cenderung mencitrakan sisi “kewanitaan”, sehingga konotasi mengarah pada kelembutan, ketakberdayaan dan keindahan/kecantikan. Berdasarkan studi, wewangian jenis floral bisa mempercepat kerja otak dalam menyerap informasi, sekaligus melancarkan proses komunikasi.

Lain lagi aroma selain floral. Sebagai contoh, aroma spicy oriental bisa membangkitkan kesan sensual, misterius dan menggoda. Contoh lain adalah wangi vanila, bisa membantu menaikkan hasrat seksual pada diri sendiri dan pasangan, juga dapat memberikan kenyamanan dan ketenangan pada saat bercinta.

Wangi berikutnya adalah elegan. Kesan sepintas memang sangat simpel dan polos. Ia menimbulkan efek yang halus, namun tak terlupakan.

Lantas ada aroma oriental. Ketika aroma ini menyebar, akan terlintas sesuatu yang eksotis. Umumnya berbau tajam menggairahkan, karena biasanya menggunakan ekstrak aroma rempah. Karena itu, pilihan aroma oriental ini sangat direkomendasikan untuk memacu gairah seksual. Efek hangat, menggairahkan, sensual dan seksi sangat tercitra dari kelas aroma ini.

Kelompok wewangian lain adalah fresh. Aroma ini sangat sederhana, namun berkesan menyegarkan. Biasanya terdiri dari aroma buah-buahan. Cocok untuk yang berjiwa aktif dan sportif.

Secara umum, berdasarkan substansi pemilihan, minyak wangi dapat dibagi dua jenis yakni yang memakai alkohol dan juga yang tidak memakai alkohol. Keduanya memiliki keunggulannya masing-masing. Minyak wangi yang mengandung alkohol misalnya, selain aromanya lebih lembut juga tidak lengket jika dipakai. Sementara untuk minyak wangi non alkohol biasanya aroma wanginya lebih menyengat dan lengket jika dipakai.

Intinya, pilihlah aroma yang memang bisa membuat diri nyaman, bergairah, dan sesuai dengan karakter pribadi. Di balik adanya rasa percaya diri dari pemakaian minyak wangi, ternyata juga memiliki beberapa dampak negatif, terutama bagi sebagian orang yang memiliki kulit sensitif. Oleh karena itulah, sebelum menjatuhkan pilihan sebaiknya coba lah dulu sedikit. Apakah sudah sesuai dengan jenis kulit dan aromanya cocok dengan Anda.

Alternatif Wewangian Sebagai Kebutuhan
Minyak wangi saat ini bukan dominasi kaum perempuan. Penggunaannya sudah meluas. Bahkan kaum lelaki pun mulai merasa kurang pas tanpa minyak wangi. Maka wewangian pun sudah menjadi bagian kebutuhan dan pelengkap penampilan bagi perempuan dan lelaki.

Sebagai salah satu kebutuhan, parfum pun semakin berkembang, baik dalam varian aroma maupun peruntukan pemakaiannya. Dalam hal ini ketahanan atau keawetan aroma parfum pun menjadi perhatian penggunanya. Bahkan agar parfum itu bisa tetap awet, diperlukan cara penyimpanan yang baik.

Pada umumnya, sebotol minyak wangi dapat bertahan segar dan aromanya tidak hilang selama satu tahun. Bila disimpan di tempat yang sejuk dan kering, biasanya dapat bertahan beberapa bulan lebih lama. Potensi minyak wangi akan hilang bila aroma atau warnanya sudah berubah.

“Salah satu yang harus dilakukan untuk menjaga agar aroma minyak wangi dapat bertahan lama adalah dengan menyimpannya di tempat yang kering dan sejuk. Yang terpenting, botol harus selalu tertutup rapat. Karena kalau botolnya terbuka dapat memengaruhi kualitasnya,” ungkap Ria, Beauty Advisor (BA) Aura Cantik.

Senada dengan Ria, Andre penjual parfum di Corner Pajus, mengatakan botol parfum memang harus senantiasa tertutup rapat. “Sehabis memakai parfum, kita kadang lupa menutup botolnya. Seandainya botol parfum ini tetap terbuka sekian lama, maka akan berpengaruh terhadap aroma minyak wanginya,” jelasnya.

Ada beberapa orang yang mengatakan, jika aroma minyak wangi yang mungkin sudah dipakai selama beberapa minggu aromanya tidak tercium lagi oleh hidung, sementara bagi orang lain tetap dapat mencium aroma minyak wangi tersebut.

Ternyata kejadian tersebut adalah hal yang normal. Umumnya hidung punya mekanisme yang sangat peka dalam mengindera bau. Namun jika sudah terbiasa dengan bau tertentu, hidung menjadi mengabaikan bau tersebut. Hal ini terjadi karena indera penciuman sudah terbiasa dengan bau tersebut sehingga seolah tak menciumnya lagi.

Jika ini terjadi, biasanya si pengguna parfum yang mamakai aroma yang sama selama sekian lama cenderung untuk meningkatkan penggunaan minyak wangi hingga berlebihan. Akibatnya, orang di sekitarnya akan merasa terganggu oleh aroma yang menyengat berlebihan. Oleh karena itulah disarankan untuk mengganti aroma minyak wangi dalam periode waktu tertentu. Yaitu menyediakan alternatif pilihan wangi.

Ragam Parfum
Parfum saat ini bukan hanya sebagai pelengkap kebutuhan penampilan seseorang, tapi bisa menjadi ciri citra diri seseorang. Mungkin karena adanya sinergi antara penampilan, kepribadian, dan aroma. Karena itu selektif dalam memilih wewangian adalah salah satu kunci menuju pencitraan diri pribadi.

“Saat ini kepribadian seseorang tidak hanya dapat dilihat dari busana apa yang dipakainya, tetapi juga dari jenis dan aroma parfum apa yang dipakainya. Dari aroma parfum yang dipakai, kita bisa menebak karakter atau kepribadian seseorang,” ungkap Ria Beauty Advisor (BA) Aura Cantik, yang ditemui Global di Lantai 3 Matahari Carrefour kemarin.

Menurut Ria, memilih parfum haruslah benar-benar disesuaikan dengan kondisi dan situasi. Karena jika salah memilih dan memakai parfum, tentu saja akan berkesan sedikit “norak”. “Orang yang kerjanya dalam kantor, tentu aroma parfumnya berbeda dengan orang yang kerjanya di lapangan. Karakter-karekter seperti ini yang seharusnya bisa dijadikan pedoman bagi seseorang untuk memilih parfum mana yang cocok untuk digunakannya,” terangnya.

Di Aura Cantik, kata Ria, mereka menawarkan berbagai merek parfum lokal maupun internasional. Untuk parfum buatan lokal yang ditawarkan adalah Lignea, yang dijual seharga 150 ribu rupiah. Sementara lainnya adalah parfum dengan merek terkenal, seperti Kenzo, Aigner, Guess, Paris Hilton, Ulric de Varens dan Versace Chevignon. Aneka aroma dan jenis parfum-parfum itu memang diperuntukkan bagi beragam karakter. “Soal harga yang kita tawarkan, dari yang paling murah adalah sekitar 120-an ribu rupiah sampai yang seharga 1,2 jutaan rupiah. Tentunya kualitas parfum juga dilihat dari harganya. Kalau yang harganya mahal, aromanya bisa tahan lama,” gumam Ria sambil tersenyum.

Bagi konsumen yang ingin mencoba wangi parfum, Aura Cantik juga memberikan parfum tester. “Jelas ada dong testernya. Biasanya kita selalu membagi-bagikannya kepada pengunjung yang datang. Tester-kan bisa menjadi contohnya, jadi konsumen bisa memilih mana parfum yang cocok untuk dipakai,” papar Ria sambil memberikan satu buah tester yang sudah disiapkan dalam bentuk kertas kecil ini.

Awas! Iritasi dan Alergi Kulit
Ada satu saran yang perlu diperhatikan bagi yang ingin memilih parfum. Tak ada salahnya jika sedikit “cerewet” terhadap penjual agar jangan kecewa dan menyesal di belakang hari. Saat akan membeli parfum, upayakan untuk mencobanya terlebih dahulu.

Mencoba untuk mengetahui apakah wangi cocok dengan keinginan dan untuk mengetahui apakah parfum tersebut cocok dengan kulit kita. Coba ambil tester parfum, teteskan sedikit di tubuh Anda (biasanya di pergelangan tangan). Baui aromanya dan rasakan apakah ada tanda-tanda iritasi seperti rasa gatal, panas atau perih.

“Salah satu cara untuk mengantisipasi kemungkinan parfum yang tidak sesuai, cobalah sedikit dulu sebelum membeli. Jika tidak ada efek negatif, seperti gatal-gatal atau panas di tempat yang ditetesi parfum, kemungkinan parfumnya tidak bermasalah dengan kulit. Tapi kalau ada tanda-tanda iritasi, sebaiknya jangan memakainya,” ungkap Dr Irwan Fahri Rangkuti SpKK, Dokter Penyakit Kulit dan Kelamin RSU Pirngadi.

Lebih lanjut dr Irwan mengatakan, apabila pemakai parfum menemui gejala iritasi, gatal-gatal, panas, perih atau kulit memerah setelah mencoba atau memakai parfum, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter kulit. “Karena mungkin saja kulit Anda terkena penyakit kulit (dermatitis kontak),” ujar dr Irwan.

Dermatitis Kontak secara umum merupakan penyakit spesifik-lingkungan, yaitu suatu peradangan kulit akibat bahan yang berasal dari lingkungan (luar tubuh).

Terdapat dua jenis dermatitis kontak yaitu dermatitis kontak iritan (DKI) dan dermatitis kontak alergik (DKA). Kedua jenis dermatitis tersebut kadang-kadang sangat sukar dibedakan secara klinis, meskipun keduanya berbeda dalam patogenesis (zat atau organisme yang menyebabkan munculnya penyakit) yang mendasarinya. Insiden dermatitis kontak iritan lebih tinggi dibandingkan dengan dermatitis kontak alergik.

Dermatitis kontak iritan merupakan, kelainan sebagai akibat pajanan dengan bahan toksik non-spesifik yang merusak epidermis atau dermis. Umumnya setiap orang dapat terkena, bergantung pada kapasitas toleransi kulitnya. Penyakit tersebut mempunyai pola monofasik, yaitu kerusakan diikuti dengan penyembuhan. Peradangan hanya merupakan salah satu aspek sindrom DKI. Apabila terjadi pajanan dengan konsentrasi sub optimal maka reaksi yang terjadi langsung kronik.

Selama ini, dr Irwan mengakui, banyak pasien yang mengeluh sakit setelah memakai parfum. “Banyak pasien yang mengeluh sakit setelah menggunakan parfum, umumnya mereka merasakan gatal-gatal, kulit berwarna merah dan terasa panas. Hal ini umumnya akibat terjadi iritasi pada kulit karena pengaruh pemakain parfum tersebut,” jelasnya.

Oleh karena itu, dr Irwan menghimbau kepada masyarakat agar berhati-hati menggunakan berbagai jenis parfum. Karena menurutnya, dalam parfum terdapat campuran-campuran kimiawi yang apabila dipakai bisa menimbulkan gangguan kulit. “Kulit seseorang itu kan berbeda-beda, ada yang sedikit aja kena sesuatu langsung alergi, makanya harus hati-hati dalam menggunakan sesuatu termasuk parfum. Kalau kulit kita termasuk jenis ini (yang peka) lebih baik parfumnya dipakai saja di baju, kan lebih aman,” jelas dr Irwan.

Tri–Evin | Global



Maret 17, 2008 at 8:04 am Tinggalkan komentar

Banyak Jalan Menuju Sukses Berbisnis

Renungan dari seorang teman:

Sebagai jurnalis di Majalah SWA yang hampir tiap minggu bertemu entrepreneur sukses dari skala UKM hingga konglomerat, saya sering ditanya sobat2 dan kawan yang baru merintis bisnis sendiri. “Dari pertemuan dan perkenalan dengan mereka, apa sih sebenarnya rahasia sukses bisnis mereka? Kenapa sih kok mereka itu bisa sukses dan bisnis mereka bisa membesar hingga skala korporasi?”.

Terus terang, tidak mudah menjawab pertanyaan seperti ini. Jawabannya bisa puluhan halaman. Tapi kalau kalau saya boleh memberikan beberapa catatan kecil, dari yang saya dapatkan informasinya, bahwa jalan menuju sukses itu bisa berbeda-beda, sesuai pengalaman dan konteks bisnisnya masing-masing. Ada yang mengatakan kunci sukses berbisnis adalah ‘menjaga kepercayaan karena dari dipercayalah kemudian muncul trust dari para mitra kita, termasuk pembeli”. Biasanya mereka yang mengatakan seperti ini bisnisnya di bidang jasa dan bisnis banyak berurusan dengan klien-klien besar secara B2B. Dua kenalan saya yang satu kontraktor bisnis pertambangan dan satunya pengusaha kurir sama-sama mengatakan ‘kunci sukses ialah menyenangkan orang lain dan menjaga hubungan baik”. Bisa jadi karena dia banyak pelanggan korporat dan pekerjaan dia harus menservis setiap demand dari klien — dalam artian positif, bukan menyogok.

Sementara kawan yang bisnisnya garmen, fashion, dan consumer good, cenderung mengatakan, “inti sukses berbisnis ialah membangun merek, membangun nama baik di hadapan semua konsumen”. Karena itu tahapan tersulit ialah membangun merek dari produk kita agar dikenal konsumen secara luas, diakui sebagai produk yang baik dan dibeli. Pendapat ini tentu saja juga betul, sesuai konteks industri yang digeluti.

Bahkan diantara sesama pengusaha yang bisnisnya sama-sama B2B, atau sama-sama ritel ke mass consumer pun pendapatnya masih bisa berbeda-beda. Karena momentum sukses dari masing-masing orang itu juga beragam. Kalau ada diantara kawan2 yang sudah membaca buku baru terbitan Gramedia “10 PENGUSAHA YG SUKSES MEMBANGUN BISNIS DARI 0″ tulisan saya (Sudarmadi), mungkin bisa lihat contoh Pak Roni Lukito, pengusaha tas dari Bandung.

Pak Roni ini punya merek tas yang amat terkenal di Indonesia seperti Exsport, Eiger, Bodypac, dll. Beliau hanya lulusan STM tapi sukses dan punya ribuan karyawan. Nah, saya lihat momentum yang membuat beliau bisa berkembang itu setelah dia diterima sebagai pemasok di Matahari.
Untuk bisa diterima sebagai pemasok Matahari ia ditolak 13 kali, tapi terus mencoba dan kemudian setelah 13 kali baru berhasil diterima.Dari sinilah ia mulai mendapatkan ‘ruang’ untuk membuktikan bahwa produknya memang baik dan digemari konsumen. (Catatan: Pak Roni ini pengusaha sukses yg sangat low profile yang nggak pernah diwawancara media, makanya profilnya nggak pernah kelihatan di media massa. Saya beruntung sekali bisa dipercaya beliau sehingga mau saya profilkan).

Saya lihat, meskipun beliau ini sekarang bisnisnya sudah bermacam-macam, termasuk sukses membangun proyek perumahan mewah di Bandung dan bahkan punya klub pacuan kuda dan segala fasilitas lapangannya, namun momentum yang membuat dia sukses ialah ketika ia diterima sebagai pemasok Matahari saat merintis bisnis tas itu. Karena dari situlah jalannya menjadi lebih lempang dan cepat. Saya kira tugas kawan2 yang ingin sukses membangun usaha sendiri ialah ‘menemukan momentum’ seperti itu dan kalau sudah ketemu lalu menggenjotnya’ . Kalau istilahnya Hermawan Kertajaya, menemukan G-Spot-nya. Kita tidak boleh lelah mencari ‘kendaraan’ agar bisa menemukan momentum seperti itu.

Tentu saja kita juga harus selalu rendah hati untuk belajar dari banyak orang. Entah kebetulan atau tidak, ternyata sebagain besar pengusaha sukses yang saya temui, juga sangat menyukai bacaan2 baru
dan buku2 yang mendorong, seperti biografi mereka2 yang telah terbukti sukses. Mereka rajin menggali inspirasi dari berbagai sumber, baik dari pelakunya langsung atau pihak lain yang tahu seperti para konsultan. Contohnya pengusaha kurir yang kini punya 2.500-an karyawan yang mulainya dari nol dan juga diprofilkan di buku ’10 Pengusaha Sukses…” ini — namanya Pak Budiyanto — ternyata beliau sudah sangat sering membaca profil pengusaha-pengusaha sukses sejak masih mahasiswa D3 UGM. Entah dari buku, majalah, koran, dll. Saya kira pilihan ‘suka membaca’ seperti itu bisa dimengerti karena bagi kita sendiri mungkin belum tentu bisa ketemu pengusaha besar si A, B, dan C — kalau harus mendengar dia ceramah di sebuah sesi seminar mungkin biayanya diatas Rp 2 juta — namun kita bisa mengakses lebih murah cara2 berpikir dan kiat mereka dari hasil wawancara dengan media tertentu atau buku.

Disini, message-nya, sebenarnya orang sukses itu ialah orang mau berendah hati untuk selalu belajar, bisa dari buku2 bacaan dan media massa, bisa juga dari pembicaraan langsung dengan pengusaha yang telah lebih dulu sukses.

Dan tentu saja juga orang yang selalu berusaha terus-menerus tanpa putus asa. Ibarat batu, sekeras-kerasnya batu kalau tiap hari kena tetesan air, lama-lama akan tergerus juga dan lama-lama batu itu bisa habis. Kita semua ini adalah air yang terus menetes itu. Selama kita tidak pernah lelah untuk ‘menetes’ maka yakinlah bahwa batu-batu itu akan habis. Dan jangan lupa, dalam setiap mengeluarkan ‘tetesan’ itu seraya bersyukur dan mengingat Sang Pencipta agar semua tetesan kita
diberkahi. Jangan sampai kita sukses berbisnis tapi hati kita gersang kan?…

Semoga usaha kawan2 semua sukses sesuai rencana dan diberkati. Amin.
Sumber : http://www.cikalmart.com

Maret 17, 2008 at 7:56 am Tinggalkan komentar

Memilih Kosmetika Aman dan Halal

Kesadaran masyarakat tentang keamanan kosmetika yang digunakannya sudah semakin meningkat sejalan dengan munculnya berbagai kasus dampak penggunaan bahan berbahaya dalam kosmetika secara terbuka. Akan tetapi, kesadaran masyarakat Muslim untuk memperhatikan kehalalan bahan yang terkandung dalam kosmetika masih sangat rendah.

Kesadaran konsumen yang rendah dengan sendirinya tidak memunculkan tuntutan kepada produsen untuk memperhatikan kehalalan bahan-bahan yang digunakan. Hal ini berkorelasi positif dengan rendahnya minat produsen kosmetika mendaftarkan produknya untuk mendapatkan sertifikat halal. Beberapa produsen pernah mencoba mendaftarkan diri, akan tetapi perlahan-lahan mundur teratur tidak melanjutkan proses sertifikasi.

Kondisi di atas tentunya menjadikan masyarakat Muslim perlu lebih meningkatkan pengetahuan tentang kehalalan bahan kosmetika agar dapat memilah dan memilih kosmetika yang akan digunakannya. Akan tetapi pengetahuan ternyata tidak cukup untuk menentukan pilihan karena sampai saat ini masih belum banyak produk kosmetika yang mau mencantumkan komposisi bahan penyusun produknya pada label kemasan. Pada umumnya produsen hanya mencantumkan bahan aktif yang digunakan, bahkan masih sangat banyak yang tidak mencantumkan sama sekali.

Menghadapi kenyataan ini, berikut disampaikan beberapa hal yang perlu diperhatikan dan langkah yang dapat ditempuh dalam memilih kosmetika yang aman dan halal.

Legalitas produk
Pilihlah produk kosmetika yang legal. Hal ini ditunjukkan dengan dicantumkannya nomor pendaftaran di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Kode pendaftaran untuk produk kosmetika lokal adalah CD, sedangkan untuk produk impor memiliki kode CL. Legalitas produk merupakan hal yang penting sekali diperhatikan karena saat ini di pasaran telah banjir berbagai produk kosmetika dengan penawaran khasiat dan harga yang menarik, tetapi tidak terdaftar secara di BPOM. Produk-produk illegal ini tidak dapat dimintai pertanggungjawaban jika nantinya terjadi efek samping pada pengguna.

Daftar komposisi bahan
Dengan berbekal pengetahuan tentang bahan-bahan kosmetika, konsumen dapat memilih kosmetika mana yang aman dan halal untuk dipakai. Untuk mengetahui hal ini tentunya konsumen perlu mengetahui jenis-jenis bahan yang dikandung dalam produk kosmetika yang akan dipilihnya. Informasi ini dapat diketahui jika produsen dengan jujur mencantumkan daftar bahan yang digunakan pada label kemasan. Sayangnya sampai saat ini masih sangat sedikit produsen yang mau melakukannya. Minimal produsen hanya mencantumkan bahan aktif yang terkandung dalam produknya, sedangkan sebagian besar hanya mencantumkan khasiat tanpa keterangan bahan sama sekali. Menghadapi kondisi seperti ini konsumen harus lebih ulet lagi mencari jalan untuk mendapatkan informasi, atau mencari alternatif produk lain yang lebih informatif.

Nama dan alamat produsen
Nama dan alamat jelas produsen harus jelas tercantum pada label kemasan sehingga konsumen akan mudah mencari informasi dan mengajukan tuntutan jika terjadi hal-hal yang merugikan akibat penggunaan produk yang diproduksinya. Produsen yang baik biasanya mencantumkan nomor khusus untuk pelayanan konsumen serta alamat situs web yang dapat dihubungi. Sebaliknya tidak jarang produsen tidak memberikan alamat kontak, bahkan tidak menyebutkan nama produsen dan alamat sama sekali.

Langkah mencari informasi
Jika komposisi bahan tidak tercantum pada label kemasan, konsumen dapat mencari informasi langsung kepada pihak produsen. Hal ini tentunya hanya bisa dilakukan jika produsen memberikan informasi lengkap alamat layanan konsumen yang dapat dihubungi, baik melalui telepon, fax ataupun email. Berdasarkan pengalaman, produsen agak alergi jika ditanya soal kehalalan bahan yang digunakan. Hal ini mungkin karena halal merupakan isu yang sangat sensitif di Indonesia. Informasi tentang ada tidaknya kandungan bahan hewani dalam produknya biasanya lebih mudah diberikan produsen jika konsumen bertanya tidak dengan alasan halal, melainkan alasan kesehatan, misalnya alergi.

Demikian beberapa hal yang perlu diperhatikan dan langkah yang dapat ditempuh oleh konsumen dalam mendapatkan informasi tentang keamanan dan kehalalan produk kosmetika yang akan digunakannya. Tidak mudah memang mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Konsumen kosmetika di Indonesia masih sangat miskin informasi dan memerlukan usaha keras dan jalan panjang untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan. Hal ini hendaknya tidak menyurutkan langkah untuk berusaha agar hak-hak konsumen dalam mendapatkan informasi yang benar dapat terpenuhi. Jika konsumen tidak peduli dengan haknya, maka produsen pun tidak akan pernah tergerak dan merasa tertuntut untuk memberikan hak konsumen. Jadi marilah kita mulai saat ini dan dari kita sendiri.

Muti Arintawati, anggota pengurus dan auditor halal LP POM MUI

Maret 17, 2008 at 7:46 am Tinggalkan komentar


April 2014
S S R K J S M
« Mar    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Blog Stats

  • 7,691 hits

Arsip

Klik tertinggi

  • Tidak ada

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.